![]() |
oleh Dr. Faridah, M.Sos.I. Dosen Tetap Universitas Islam Ahmad Dahlan, Kab. Sinjai |
OPINI, SAMBAR.ID - Bulan Agustus adalah bulan yang banyak dinanti-nantikan oleh orang Indonesia karena bulan ini merupakan bulan diperingatinya kemerdekaan Indonesia, bulan yang semestinya dijadikan momentum bagi masyarakat untuk lebih memahami hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya.
Kemerdekaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi, dan sebagainya), selanjutnya kemerdekaan juga diartikan dengan kebebasan (kbbi.web.id). Arti kemerdekaan jika dianalisis memiliki keluasan makna, seseorang yang Merdeka berarti bebas dalam menentukan hidupnya, bebas melakukan hal yang diinginkan, memiliki kebebasan dalam ranah pribadi, dan sosial.
Kemerdekaan yang paling fundamental yaitu tidak menyekutukan Allah swt, kompetensi ini tentunya disertai dengan potensi kekayaan yang dimiliki oleh manusia.
Imam Syafi’i menyampaikan bahwa kekayaan yang paling utama bagi umat manusia adalah akal pikiran, dan hendaknya mereka menggunakannya dengan baik sehingga mereka bisa tertuntun hidupnya ke arah yang benar (islamiccenter.uad.ac.id)
Manusia adalah pribadi yang merdeka yang diberikan kewenangan untuk mengatur hidupnya menentukan nasibnya, Allah swt menyampaikan hal ini di dalam QS Ar-Ra'd: 11.
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
Terjemahnya: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (Al-Qur’an dan Terjemahnya). Manusia diberikan kemampuan untuk merubah keadaan dirinya, dia diberikan kemampuan berpikir sehingga bisa menentukan arah tindakannya.
Anugrah kemerdekaan yang diperoleh ini mestinya dibarengi dengan adab. Penulis menyebutnya dengan kemerdekaan yang beradab. Kemerdekaan dalam pemaparan sebelumnya diartikan sebagai kebebasan, sedangkan beradab diartikan memperlakukan sesuatu dengan seluhur-luhurnya, melatih jiwa dengan budi pekerti yang baik, menghiasi diri dengan perbuatan mulia, dan menjalankan segala sesuatu sesuai tuntunan yang berlaku; baik dalam nilai-nilai religious maupun nilai-nilai positif dalam masyarakat. (Ahmad Nurjali, n.d.)
Adab sangat penting dalam kehidupan, baik itu kehidupan sendiri, keluarga, ataupun sosial. Dan yang lebih penting lagi adalah adab keapada Allah dan Rasul-Nya (Hanafi, n.d.). Adab menurut Khalid adalah suatu ibarat tentang pengetahuan yang dapat menjaga diri dari segala sifat yang salah, sehingga adab seseorang bisa menjadi cerminan baik buruknya, mulia atau hinanya, terhormat atau etika tercelanya nilainya. Maka jelaslah bahwa seseorang itu bisa mulia dan terhormat di sisi Allah apabila ia memiliki adab dan budi pekerti yang baik (Mustopa, n.d.)
Kemerdekaan yang beradab adalah kebebasan yang disertai dengan dan akhlak yang mulia. Bebas tetapi tidak kebablasan dalam menngejar dan memenuhi hak-haknya, melainkan menjadi pribadi merdeka yang santun, menghormati hak-hak orang lain, menghindarkan diri dari ketamakan atau keserakahan, berhenti dari perilaku sewenang wenang, dan menjauhkan diri dari menindas orang lain.
Kemerdekaan yang beradab dapat diwujudkan dengan adanya komitmen, kesabaran dan pengendalian diri yang baik. Komitmen secara umum mencerminkan keadaan pikiran seseorang yang berkomitmen sepenuhnya untuk mencapai suatu target atau mempertahankan suatu nilai. Hal tersebut melibatkan adanya tanggung jawab pribadi, konsistensi, dan keteguhan hati. Beberapa bentuk komitmen yang melibatkan hubungan pribadi di antaranya adalah komitmen terhadap pasangan atau keluarga, dan komitmen lainnya adalah terkait dengan karir, pendidikan, agama, kesehatan, dan hal-hal yang lain. Komitmen kerap membutuhkan upaya dan dedikasi dalam mempertahankannya. Seseorang yang memiliki berkomitmen tinggi cenderung lebih mampu mengatasi setiap rintangan dan konsisten pada tujuan awalnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa komitmen merupakan faktor kunci untuk mencapai kesuksesan dan kepuasan di berbagai aspek kehidupan.
Komitmen penting dimiliki oleh pribadi merdeka yang beradab karena dianggap dengan komitmen dia mampu mengarahkan fokus dan energinya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, mampu membangun kepercayaan, menanggulangi rintangan, membentuk karakter, menciptakan konsistensi, menghadirkan kepuasan hidup, menguatkan hubungan, dan peningkatan produktivitas dan kesuksesan. Komitmen memberikan struktur dan arti pada kehidupannya, membantu mengatasi hambatan, dan menciptakan fondasi untuk hubungan yang sehat dan karier yang sukses. (Nasrul Syarif, n.d.)
Kesabaran adalah suatu hal yang sangat penting dalam menjalani kehidupan ini. Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Az-Zumar/39: 10.
قُلْ يَاعِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Terjemahnya;
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.
Kesabaran mampu menuntuk kita menjadi pribadi merdeka yang beradab, karena kesabaran itu menjadikan kita tetap tenang dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan ujian. Menurut Ulama, sabar memang berat dan terasa pahit, namun sesungguhnya buahnya dapat diibaratkan lebih manis daripada madu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya balasan yang besar bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan sesungguhnya, apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan timpakan cobaan (musibah) kepada mereka” (HR. Tirmidzi, dan beliau menghasankannya). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang menempa diri untuk sabar, maka Allah akan jadikan dia penyabar. Dan tidaklah seorang diberikan suatu karunia yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sabar mencakup banyak hal seperti sabar ketika tertimpa musibah, sabar dalam ketaatan dan sabar menjauhkan diri dari berbagai jenis kemaksiatan. Sabar dalam hal ini memiliki peranan yang sangat besar dalam menjaga keimanan seseorang. Kesabaran dalam menghadapi ujian atau musibah, kesabaran dalam menjalankan ketaatan, dan kesabaran dalam menjauhi maksiat. ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ’anhu berkata, “Sabar di dalam iman bagaikan kepala di dalam tubuh manusia.” Apabila kepala hilang, maka hilang pula nyawa tubuh tersebut dan pada akhirnya tidak tersisa iman pada orang yang tidak memiliki kesabaran. (Wahyudi, n.d.)
Seseorang yang memiliki kesabaran yang tinggi berusaha maksimal untuk taat pada perintah Allah swt dan menjauhi larangannya seperti menghindarkan dirinya dari kemaksiatan meskipun dia memahami bahwa dirinya adalah pribadi merdeka, namun dalam pemahamannya itu ada kesabaran yang menjadikannya pribadi merdeka yang beradab.
Pengendalian diri merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki, suatu karakter dan kemampuan mendasar, atribut personal yang melekat pada diri individu yang menjadikannya mampu mengatur setiap tindakannya, membentuk pola perilaku di lingkungan tempatnya berada. Pengendalian ini mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pengendalian diri menurut para ahli adalah kemampuan dalam menahan dan mengendalikan diri, baik ucapan, sikap maupun perilakunya. Kemampuan ini dimiliki karena adanya pertimbangan terkait kosekuensi pada situasi tertentu yang dapat diterimanya. Kemampuan pengendalian diri memiliki dampak positif secara khusus bagi individu itu sendiri dan secara luas yakni dalam hubungan sosial di lingkungannya. Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain, dia butuh bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya, pada konteks tersebut pengendalian diri sangat berperan penting dimiliki dan diimplementasikan. Individu yang memiliki pengendalian diri yang tinggi akan dapat bersosialisasi dengan baik dan dapat mengantisipasi stimulus dari luar. (Zulfah, n.d.).
Komitmen, kesabaran, dan pengendalian diri mampu menjadikan kita sebagai pribadi yang merdeka dalam arti yang sesungguhnya yakni merdeka tetapi beradab. kemerdekaan yang dapat kita renungkan dari kisah keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam mengemban misi kenabian di muka bumi (QS. Al-Maidah: 3). Nabi Muhammad SAW diutus Allah SWT di tengah-tengah masyarakat Arab Jahiliyyah yang mengalami tiga penjajahan sekaligus yaitu disorientasi hidup (QS Luqman: 13), penindasan ekonomi (QS Al-Humazah: 1-4), dan kezaliman sosial (QS Al-Hujurat: 13) (mirror.mui.or.id).
Kemerdekaan yang beradab dapat mengantarkaan kita menjadi makhluk yang terbaik seperti yang disampaikan oleh Allah swt dalam Q.S. Ali Imran/3: 104.
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Terjemahnya: Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka.
Umat yang terbaik seperti menjadi pribadi yang excellent, pribadi yang mengesankan, bijaksana dan mampu mengemban amanah yang telah diberikan Oleh Allah swt, maka perlu untuk memiliki kompetensi di antaranya yaitu kompetensi dalam hal komitmen, kesabaran dan pengendalian diri yang baik. Nabi Muhammad saw adalah pribadi yang paling adil, paling mampu menahan diri, paling jujur perkataanya, dan paling kuat memegang amanat. (Syaikh Shafiyyurrahman al-mubarakfuri, n.d.)
Kemerdekaan yang beradab mampu menjadikan kehidupan bangsa yang tentram dan damai karena individu-individu yang merdeka mampu menggunakan kemerdekaannya dengan cara yang bijaksana, saling menghormati, saling menghargai, saling menyayangi, dan saling membantu. (*)